PORTAL JOGJA – Era digital menghadirkan kemudahan bertransaksi, namun sekaligus membawa tantangan baru bagi generasi muda, terutama Gen Z, dalam mengelola keuangan. Godaan belanja daring, tren media sosial, hingga derasnya promo e-commerce membuat garis pemisah antara kebutuhan dan keinginan semakin sulit dikenali.
Menjawab tantangan tersebut, AXA Mandiri melalui kegiatan SmartFin Day 2025 di Universitas Gadjah Mada, beberapa hari lalu, mengajak mahasiswa untuk lebih bijak menata keuangan dengan memahami perbedaan antara apa yang benar-benar dibutuhkan dan apa yang sekadar diinginkan. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Top Agent Awards ke tiga puluh delapan yang diselenggarakan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), serta diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta.
Perjalanan digitalisasi telah mengubah pola konsumsi masyarakat. Dari masa dominasi belanja konvensional di awal milenium, bergeser ke era kebangkitan e-commerce, hingga semakin dipercepat pada masa pandemi. Kini, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu pasar e-commerce terbesar dengan jumlah pengguna yang terus bertambah.
Namun, di balik perkembangan itu, muncul fenomena impulse buying. Diskon kilat seperti sebelas sebelas atau dua belas dua belas, promosi langsung dari para influencer, kebiasaan takut ketinggalan tren atau fear of missing out, serta kemudahan layanan buy now pay later membuat generasi muda rentan berbelanja tanpa perhitungan matang. Survei terbaru bahkan mencatat, hampir empat dari sepuluh pengguna internet di Indonesia yang berusia remaja hingga dewasa muda, telah menggunakan layanan pembayaran tunda ini secara rutin.
Baca Juga : Kesehatan Mental Remaja Mendapat Sorotan di Seminar Internasional MAN 1 Yogyakarta
Dalam pemaparannya, Atria Rai, Chief Communications Officer AXA Mandiri Financial Services, menekankan pentingnya kesadaran dasar tentang pengelolaan keuangan.
“Di era e-commerce, batas antara kebutuhan dan keinginan semakin kabur. Karena itu, setiap pengeluaran harus ditimbang secara kritis, apakah benar mendukung tujuan hidup atau sekadar memenuhi dorongan sesaat,” ujarnya.
Kebutuhan dan Keinginan
Menurut Atria, membedakan kebutuhan dan keinginan merupakan kunci utama kestabilan finansial.
Kebutuhan mencakup hal-hal mendasar seperti makanan, tempat tinggal, transportasi, dan pendidikan, yang sifatnya esensial.
Keinginan lebih berkaitan dengan gaya hidup, misalnya kopi kekinian, tiket konser, barang bermerek, hingga produk kecantikan.
Baca Juga : 170 Ribu Warga Indonesia Pilih Malaysia untuk Wisata Kesehatan
Kesalahan dalam mengelola keduanya bisa menimbulkan utang konsumtif, ketiadaan dana darurat, tekanan finansial, serta kegagalan mencapai tujuan jangka panjang.
Strategi Menata Keuangan Sehat
AXA Mandiri mendorong generasi muda untuk mulai menata keuangan sejak dini dengan sejumlah langkah sederhana. Proteksi melalui asuransi ditempatkan sebagai fondasi utama, karena dapat melindungi dari risiko tak terduga seperti sakit, kecelakaan, atau kehilangan pendapatan. Saat ini, asuransi sudah semakin terjangkau, dengan premi yang dapat diakses siapa pun, sehingga bukan lagi dianggap barang mewah, melainkan kebutuhan pokok dalam perencanaan finansial.
Selain itu, penting pula menyiapkan dana darurat setara dengan beberapa bulan kebutuhan hidup sebagai jaring pengaman, menerapkan alokasi anggaran yang proporsional antara kebutuhan, cicilan produktif, dan tabungan, serta mengelola utang dengan disiplin. Mulai berinvestasi sejak dini juga dianjurkan agar aset dapat berkembang dan tujuan keuangan jangka panjang dapat tercapai.
“Membangun pondasi keuangan adalah langkah awal sebelum berinvestasi. Dengan perencanaan matang, termasuk proteksi asuransi sejak dini, generasi muda dapat memastikan masa depan finansial yang lebih aman,” ujar Atria.
Melek Finansial untuk Masa Depan
Melalui kegiatan literasi ini, AXA Mandiri berharap generasi muda semakin mampu mengelola keuangan dengan bijak, terukur, dan berkelanjutan. Dengan memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, mereka tidak hanya lebih cerdas dalam membelanjakan uang, tetapi juga lebih siap menghadapi dinamika ekonomi digital serta menapaki masa depan dengan penuh keyakinan. ***