Sabtu, Juni 15
About

Arief Poyuono Ajak Masyarakat Dukung Sikat Benalu di Tubuh Polri

Pinterest LinkedIn Tumblr +

INIJOGJA.NET – Mantan Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Arief Poyuono mengatakan, credo Polisi Presisi bukan cuma slogan, namun diterapkan oleh institusi Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Jendral Listyo Sigit.

“Ini fakta yang tidak bisa kita pungkiri, baru kali ini setelah era Kapolri Jenderal Hoegeng,”tegas Arief Poyuono di Jakarta, Selasa (7/9/2022).

Dikatakan, Kapolri Jendral Listyo Sigit secara tegas dan tegak lurus mendapat perintah Presiden Jokowi untuk membongkar prilaku negatif yang dilakukan “gerombolan gang” yang ada di tubuh Polri.

Menurut dia, baru dijumpai saat ini sebab sebelumnya jika ada aib atau perbuatan semacam obstruction justice oleh oknum polisi secara kelompok tidak ada yang terbongkar dan tidak ada tindakan hukum pada kelompok oknum polisi tersebut. bahkan mencoba menutup rapat rapat aib tersebut atas nama melindungi corps kepolisian.

“Contoh saja salah satunya dalam pemberantasan pungli di mana gerombolan oknum kepolisian yang terlibat pungli tidak ditindak secara pidana di era Kapolri sebelumnya. Padahal itu merupakan perintah langsung Presiden Joko Widodo untuk memberantas pungli atau pemerasan pada dunia usaha pada Kapolri saat itu. Kapolri yang menjabat justru beralasan tidak melakukan sanksi pidana karena ditakutkan adanya demoralisasi dengan alasan anggaran kurang untuk kepolisian kurang dengan alasan maraknya praktik pungli di lingkungan Kepolisian karena kurangnya anggaran.”

“Mereka mencoba cara curang dengan memeras masyarakat, tentu ini bukan alasan tepat untuk melakukan revolusi mental dalam tubuh Polri,” ujarnya.

Dikatakan, tidak demikian dengan penerapan Polisi Presisi di era sekarang ini, tindakan gerombolan oknum polisi yang membuat aib di tubuh Polri seperti dalam kasus dugaan pembunuhan brigadir J oleh seorang petinggi polri Ferdi Sambo dan banyak anggota Polri yang melakukan tindak pidana dengan cara obstruction justice semuanya ditindak tegas, terukur dan sangat transparan oleh Jendral Listyo Sigit.

Selain itu, kata Arief, juga Kapolri Listyo Sigit melibatkan partisipasi publik, artinya publik tidak dikriminalisasi ketika ikut berkomentar mengkritik institusi polri dan Kapolri dalam kasus pembunuhan Brigadir J.

“Tentu saja masyarakat tidak boleh membiarkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit dalam membenahi institusi Polri yang Presisi, masyarakat harus berpartisipasi mengawal Polisi Presisi. baik lewat saluran media sosial agar Polisi Indonesia profesional yang kita impikan dapat terwujud,” jelas dia.

Namun demikian Kapolri Jenderal Listyo Sigit yang banyak mendapatkan dukungan penuh dari Presiden Jokowi dan tentu juga masyarakat harus melakukan pembenahan internal di tubuh Polri dengan terukur dan didasarkan pada kinerja dan prestasi anggota Polri dan tidak didasarkan pada hal yang subjectice atau like or dislike atau didasarkan pada geng geng lagi seperti sebelumnya

“Tentu pembenahan internal ditubuh Polri tidak dengan mudah dapat dilakukan oleh Kapolri tanpa ada dukungan penuh dari masyarakat karena itu saya selalu bersama masyakat akan terus mendukung langkah langkah Kapolri dalam melakukan pembenahan di tubuh Internal Polri,”

Kapolri juga, lanjut dia, dalam pembenahan di tubuh internal Polri harus mengambil langkah konsolidasi internal terutama dengan setiap angkatan AKPOL baik yang baru selesai dari pendidikan hingga angkatan yang paling senior, serta meminta masukan para senior senior jenderal Polri yang sudah pensiun dan punya track record yang bagus selama bertugas di Polri

“Maju terus Pak Kapolri dan anggota Polri yang cinta Polri , kami selalu mendukung, sikat habis benalu benalu yang mencoba menghalang halangi perbaikan terhadap institusi Polri,” ujar Arief Poyuono. (Cdr)

Share.

About Author

Leave A Reply