INI JOGJA – Di tengah gaung Hari Pendidikan Nasional, Bank Mandiri menegaskan langkah strategisnya: hadir bukan sekadar sebagai lembaga keuangan, tetapi sebagai penggerak perubahan yang menyiapkan generasi muda Indonesia menghadapi masa depan. Lebih dari membuka akses layanan perbankan, Bank Mandiri membuka jalan—membentuk pola pikir, kebiasaan, dan kesiapan finansial sejak dini.
Melalui program Tabungan Simpanan Pelajar (SimPel), Bank Mandiri mendorong percepatan inklusi keuangan yang tidak berhenti pada angka pembukaan rekening. SimPel diposisikan sebagai pintu masuk menuju transformasi karakter pelajar—dari sekadar menabung, menjadi generasi yang memahami nilai uang, mampu mengelola keuangan, dan memiliki orientasi jangka panjang.
Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, menegaskan bahwa pendekatan ini merupakan bagian dari komitmen besar perseroan dalam membangun negeri secara berkelanjutan. Menurutnya, literasi keuangan harus berjalan beriringan dengan akses yang nyata, sehingga setiap produk yang dihadirkan tidak hanya relevan, tetapi juga berdampak.
“Bank Mandiri meyakini bahwa literasi dan inklusi keuangan sejak dini adalah fondasi penting dalam membentuk generasi yang adaptif dan berdaya saing. Melalui Tabungan SimPel, kami tidak hanya memperluas akses layanan keuangan, tetapi juga menanamkan pola pikir finansial yang berkelanjutan,” ujar Adhika.
Komitmen tersebut tercermin dalam pertumbuhan yang konsisten. Hingga akhir 2025, jumlah rekening SimPel Bank Mandiri telah mencapai 928 ribu, tumbuh 19,6 persen secara tahunan. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan mencapai 117 ribu rekening per tahun, dengan tren kenaikan yang stabil.
Baca Juga : Mengapa Sekolah Perlu Layanan Psikologi? Ini Jawaban dari AYWS
Memasuki 2026, laju ini terus menguat. Per Maret, jumlah rekening telah menyentuh 966 ribu atau meningkat sekitar 12 persen dibandingkan periode sebelumnya. Total saldo yang dihimpun mencapai Rp 354 miliar, dengan rata-rata saldo Rp 366 ribu per rekening—sebuah indikator bahwa kesadaran menabung di kalangan pelajar semakin terbentuk.
Program ini menjangkau pelajar dari berbagai jenjang, mulai dari TK hingga SMA. Dominasi nasabah dari tingkat SMA yang mencapai 64 persen menunjukkan bahwa fase remaja menjadi titik krusial dalam membentuk orientasi finansial. Secara geografis, Jawa Timur tercatat sebagai kontributor terbesar, menandakan luasnya penetrasi dan efektivitas program di berbagai wilayah.
Namun, Bank Mandiri tidak berhenti pada pembukaan rekening. Perseroan menyadari bahwa akses tanpa pemahaman hanya akan menjadi angka. Karena itu, literasi menjadi pilar utama yang terus diperkuat melalui berbagai program edukasi yang aplikatif dan terukur.
Sepanjang 2025, program literasi keuangan telah menjangkau lebih dari 1.000 mahasiswa, antara lain di Universitas Musamus Merauke dan Universitas Negeri Gorontalo. Sementara pada 2026, inisiatif “Mandirian Mengajar” diperluas secara signifikan, menyentuh hampir 10 ribu peserta lintas jenjang pendidikan, dengan peningkatan pemahaman mencapai 47 persen—sebuah capaian yang menegaskan efektivitas pendekatan berbasis edukasi berkelanjutan.
Di sisi lain, kontribusi Bank Mandiri juga menyentuh aspek fundamental pendidikan: infrastruktur. Sebanyak 27 sekolah di berbagai daerah telah direnovasi, mencakup perbaikan fasilitas dasar seperti atap, lantai, dan dinding, hingga peningkatan sarana belajar seperti meja, kursi, dan papan tulis. Tak hanya itu, kehadiran Pojok Baca di sekolah-sekolah tersebut menjadi simbol komitmen dalam menumbuhkan budaya literasi sejak dini.
Upaya memperluas akses pendidikan juga diwujudkan melalui penyaluran 267 beasiswa bagi mahasiswa, serta distribusi perlengkapan sekolah bagi puluhan ribu pelajar. Dalam periode Desember 2025 hingga Maret 2026 saja, lebih dari 26 ribu paket tas sekolah telah disalurkan, termasuk untuk wilayah terdampak bencana dan program sosial seperti Ramadan 2026.
Momentum Hardiknas tahun ini kembali dimanfaatkan untuk memperluas dampak. Bank Mandiri menargetkan penyaluran lebih dari 2.800 paket tas sekolah di 12 region, sebagai bagian dari upaya memastikan kesiapan belajar siswa di berbagai daerah tetap terjaga.
Baca Juga : Format Baru Campus League : Sinergi Olahraga dan Pendidikan untuk Cetak Generasi Mahasiswa Berdaya Saing
Seluruh langkah ini dirancang dalam satu ekosistem terintegrasi—menggabungkan produk keuangan, edukasi, serta kolaborasi dengan berbagai pihak. Bagi Bank Mandiri, inklusi keuangan bukan sekadar soal membuka akses, melainkan tentang membangun kesiapan mental, pola pikir, dan keberanian generasi muda dalam menghadapi masa depan.
Dengan strategi yang konsisten dan sinergi yang kuat, Bank Mandiri terus menegaskan perannya sebagai katalisator perubahan. Tidak hanya menggerakkan roda ekonomi, tetapi juga menanamkan fondasi literasi yang kokoh bagi generasi penerus bangsa.
“Bagi Bank Mandiri, setiap rekening pertama bukan sekadar angka, melainkan awal dari perjalanan besar menuju masa depan yang lebih mandiri, terarah, dan berkelanjutan,” tutup Adhika. (Chaidir)
