INI JOGJA – JNE Content Competition 2026 hadir sebagai ruang yang tidak hanya mempertemukan kreativitas, tetapi juga menjaga integritas dalam setiap prosesnya. Di tengah ekosistem kreatif yang kerap dipengaruhi popularitas dan nama besar, kompetisi ini justru mengambil posisi berbeda yakni menempatkan karya sebagai satu-satunya tolok ukur penilaian.
Dengan sistem penjurian anonim, identitas seluruh peserta sepenuhnya disembunyikan. Tidak ada nama, latar belakang, maupun afiliasi yang dapat memengaruhi penilaian. Setiap karya dinilai murni berdasarkan kualitas ide, kekuatan cerita, dan kedalaman makna yang disampaikan. Seluruh data peserta hanya diketahui oleh panitia, sementara para juri fokus sepenuhnya pada substansi karya.
Maman Suherman, yang dikenal dengan sapaan Kang Maman, selaku juri kategori penulisan menegaskan bahwa proses ini benar-benar dijalankan secara disiplin. Ia menyampaikan bahwa dalam setiap karya yang dinilai, tidak ada satu pun petunjuk mengenai identitas penulisnya.
“Saat saya menilai karya peserta, sama sekali tidak ada nama atau identitas sehingga saya tidak mengetahui itu karya siapa,” ujar Maman Suherman kepada wartawan saat jumpa pers di Gedung Sardjito Universitas Islam Indonesia, Selasa (5/5/2026).
Pernyataan tersebut menjadi penegas bahwa JNE Content Competition 2026 mengedepankan standar penilaian yang ketat, objektif, dan profesional. Tidak ada ruang bagi bias personal, tidak ada preferensi terhadap nama tertentu, dan tidak ada peluang bagi popularitas untuk mengalahkan kualitas. Setiap peserta berada pada titik yang sama: dinilai dari kemampuan mereka mengolah ide menjadi karya yang bernyawa.
Baca Juga : JNE Content Competition Ada di Balik Layar Para Pencipta Inspirasi
Komitmen tersebut kemudian diperkuat melalui rangkaian kegiatan Creative Workshop bertajuk “Think Creative: Dari Ide Jadi Karya Penuh Cerita” yang diselenggarakan pada Selasa (5/5/2026) di Gedung Sardjito, Ruang Teatrikal Lantai 2, Universitas Islam Indonesia, Jalan Kaliurang KM 14,5, Yogyakarta.
Workshop ini menjadi ruang belajar yang tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga membuka perspektif baru bagi para peserta. Mahasiswa Universitas Islam Indonesia yang hadir diajak untuk memahami bahwa karya bukan sekadar hasil akhir, melainkan proses panjang yang melibatkan kepekaan, pengalaman, dan keberanian untuk jujur terhadap realitas.
Hadir sebagai narasumber sekaligus juri dalam kompetisi ini adalah Martha Suherman sebagai juri Photo Competition, Maman Suherman sebagai juri Writing Competition, Raditya Mahendra Jasa sebagai juri Photo Competition Regional Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Amir Mahmud sebagai juri Writing Competition Regional Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Diskusi dipandu oleh Nadia Wasta Utami, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, yang mampu menghadirkan dialog yang hidup dan relevan.
Dalam sambutannya, Murah Lestari selaku Head Regional Jateng-DIY JNE menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen JNE dalam membangun generasi kreatif yang memiliki daya saing.
“Melalui Creative Workshop ini, kami ingin membuka ruang belajar sekaligus inspirasi bagi mahasiswa agar mampu mengembangkan ide menjadi karya yang memiliki cerita dan nilai. JNE percaya bahwa kreativitas anak muda adalah kekuatan besar untuk masa depan,” ujar Murah Lestari.
Baca Juga : JNE Content Competition Ada di Balik Layar Para Pencipta Inspirasi
Apresiasi juga disampaikan oleh Ir Wiryono Raharjo MArch PhD, selaku Wakil Rektor Bidang Kemitraan dan Kewirausahaan Universitas Islam Indonesia. Ia menilai kolaborasi antara dunia industri dan akademik ini sangat penting dalam membekali mahasiswa menghadapi perkembangan industri kreatif.
“Kami menyambut baik kolaborasi ini sebagai bagian dari upaya kampus dalam mendorong mahasiswa untuk tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kreatif dan adaptif terhadap perkembangan industri kreatif,” ujar Ir Wiryono Raharjo.
Rasa dan Otentisitas
Dalam kesempatan yang sama, Eri Palgunadi selaku Senior Vice President Marketing Group Head JNE turut hadir dan menyapa para jurnalis Yogyakarta dalam sesi talkshow dan media gathering. Kehadirannya memperkuat peran JNE sebagai perusahaan yang tidak hanya bergerak di bidang logistik, tetapi juga aktif mendorong tumbuhnya kreativitas dan literasi di masyarakat.
Salah satu poin penting yang mengemuka dalam diskusi adalah soal otentisitas. Di tengah maraknya penggunaan teknologi, termasuk Artificial Intelligence, para juri menekankan bahwa kekuatan utama sebuah karya tetap terletak pada pengalaman manusia yang tidak bisa ditiru mesin.
Maman Suherman menegaskan bahwa perbedaan mendasar antara manusia dan teknologi terletak pada rasa. “Yang membedakan manusia dengan AI adalah rasa dan pengalaman pribadi. AI tidak bisa melakukan tatap muka, AI tidak punya kenangan saat mendengar teriakan ‘paket!’ di depan pagar rumah,” tegas Maman Suherman.
Menurutnya, karya yang kuat adalah karya yang mampu menghadirkan detail nyata, membangun suasana, dan membuat pembaca seolah berada di dalam cerita tersebut. Ia juga mendorong peserta untuk mengembangkan tema “Bergerak Bersama Beragam Cerita” dengan membedah setiap kata kunci menjadi bagian narasi yang utuh dan saling terhubung.
Pentingnya Storytelling
Dari sisi fotografi, Martha Suherman menekankan pentingnya storytelling dalam sebuah gambar. Ia menjelaskan bahwa foto yang kuat tidak hanya indah secara visual, tetapi juga mampu menyampaikan cerita secara langsung.
Baca Juga : JNE Content Competition Ada di Balik Layar Para Pencipta Inspirasi
“Kami seringkali menemukan karya pelajar yang lebih berani keluar dari pakem. Perspektif segar inilah yang kami cari,” ujar Martha Suherman.
Hal ini menunjukkan bahwa kompetisi ini membuka ruang bagi eksplorasi dan keberanian dalam berkarya, tidak semata-mata berfokus pada kesempurnaan teknis.
Antusiasme peserta dari kalangan pelajar dan mahasiswa juga menjadi perhatian. Maman Suherman menilai bahwa generasi muda saat ini memiliki imajinasi yang kuat dan kemampuan yang semakin kompetitif.
“Daya tembus dan imajinasi anak SMA saat ini luar biasa. Kita tidak bisa lagi memandang mereka sebelah mata,” ujarnya.
Hadiah Perjalanan Riligi
JNE Content Competition 2026 yang mengusung tema “Bergerak Bersama Beragam Cerita” pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar kompetisi. Ia menjadi gerakan untuk mendorong lahirnya ide-ide segar, menjaga kejujuran dalam berkarya, dan merayakan keberagaman perspektif di tengah perkembangan zaman.
Selain menyediakan total hadiah ratusan juta rupiah, kompetisi ini juga memberikan kesempatan bagi pemenang terbaik untuk meraih hadiah utama berupa perjalanan religi, baik umroh maupun perjalanan ke Holy Land. Lebih dari itu, JNE juga membuka peluang kerja sama profesional dengan para pemenang, sehingga karya mereka dapat terus berkembang dan memberi dampak lebih luas.
Pada akhirnya, kekuatan utama JNE Content Competition 2026 terletak pada integritas prosesnya. Ketika identitas dihilangkan dan nama tidak lagi menjadi pertimbangan, maka yang benar-benar diuji adalah kualitas karya itu sendiri.
Di sanalah kompetisi ini menemukan maknanya: menjadi ruang yang adil, ruang yang jujur, dan ruang di mana setiap cerita—sekecil apa pun—memiliki kesempatan untuk didengar. (Chaidir)
