INI JOGJA — Tantangan zaman yang kian kompleks, mulai dari krisis kesehatan mental, kelelahan sosial, perubahan iklim, hingga banjir informasi digital, menuntut pendekatan pendidikan yang tidak lagi semata mengejar prestasi akademik. Menjawab kebutuhan itu, Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) secara resmi meluncurkan konsep Wellness School dalam Stadium General bertajuk “Mempersiapkan Generasi Emas Indonesia”, Selasa (3/2/2026), di Eco Hall Training Center Asram Edupark.

Konsep ini dipaparkan langsung oleh akademisi Universitas Gadjah Mada, Prof Ir Wiendu Nuryanti MArch PhD, yang menegaskan bahwa pendidikan masa depan harus kembali pada misi utamanya yaitu memanusiakan manusia secara utuh.
“Wellness bukan hanya tentang sehat secara fisik, tetapi tentang keseimbangan hidup. Tubuh, pikiran, emosi, spiritual, relasi sosial, hingga hubungan dengan lingkungan harus tumbuh selaras,” ujar Prof. Wiendu di hadapan peserta.
Hal itu disampaikan pada acara Silaturahmi Jamiyah dan Yayasan Asram (Sijaya). Hadir para pengurus Jamiyah dari semua kampus AYWS baik kampus Sleman 1, Sleman 2, kampus Bantu, dan Wonosari. Selain para Wakil Kepala Bidang Yayasan Asram/Badan Pengelola dan Pelaksana Harian (BPPH) Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS).
Menurut Prof Wiendu, dunia kini bergerak menuju Society 5.0, sebuah tatanan di mana teknologi seharusnya melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya. Dalam konteks itulah Wellness School menjadi relevan, karena mempersiapkan peserta didik bukan hanya agar siap bekerja, tetapi juga siap hidup secara bermakna.
Pendidikan yang Menyentuh Dimensi Kemanusiaan
Prof. Wiendu menjelaskan, Wellness School berangkat dari kesadaran bahwa krisis terbesar manusia modern bukan semata krisis ekonomi, melainkan krisis keseimbangan hidup. Pendidikan yang terlalu menekankan capaian kognitif berisiko mengabaikan kesehatan mental, karakter, dan tujuan hidup peserta didik.
Baca Juga : SDN Nglarang Ukir Sejarah, SD Muhammadiyah Sapen Tutup MLSC Yogyakarta dengan Gelar
Wellness School, kata dia, adalah ekosistem belajar yang mengintegrasikan pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, keberlanjutan lingkungan, serta desain yang berpusat pada manusia. Tujuannya tidak hanya melahirkan individu cerdas, tetapi juga pribadi dengan gaya hidup sehat, ketahanan emosional, harmoni sosial, dan kesadaran ekologis.
“Intinya sederhana, learning how to live well, not just how to work,” tegasnya.
Jembatan Pendidikan dan Pariwisata Wellness
Menariknya, konsep Wellness School yang diusung AYWS juga diletakkan dalam perspektif yang lebih luas, yakni keterkaitannya dengan pariwisata wellness. Pendidikan dan pariwisata diposisikan sebagai jembatan strategis untuk mengintegrasikan wellness dengan pertanian lokal, budaya, serta pengetahuan tradisional.
Dalam paparan tersebut, Prof. Wiendu menjelaskan bahwa aktivitas wellness tourism dirancang sebagai pengalaman menyeluruh—partisipatif, edukatif, dan reflektif. Wisatawan tidak sekadar menikmati, tetapi terlibat langsung dengan alam dan budaya lokal, belajar kearifan setempat, serta menemukan ketenangan batin.
Aktivitas seperti minum jamu tradisional, workshop herbal, spa tradisional, yoga dan meditasi alam, hingga praktik permakultur dipandang sejalan dengan nilai-nilai wellness yang juga relevan untuk dunia pendidikan.
Belajar dari Praktik Global dan Lokal
Sejumlah praktik baik dari berbagai belahan dunia turut disampaikan, mulai dari Canyon Ranch sebagai pelopor wellness retreat global, Glen Dye di Skotlandia yang mengedepankan kedekatan dengan alam, hingga Astungkara Way di Bali yang mengusung jalur regeneratif berbasis komunitas dan tradisi lokal.
“Indonesia memiliki kekayaan luar biasa untuk pengembangan wellness-based education,” kata mantan Wakil Menteri Kebudayaan itu. Nilai gotong royong, desain tropis pasif, pengetahuan pengobatan tradisional, serta filosofi harmoni manusia–alam–Tuhan menjadi modal besar yang jarang dimiliki negara lain.
Arsitektur Sekolah sebagai Ruang Penyembuhan
Dalam konsep Wellness School, arsitektur dan perencanaan ruang juga memegang peran penting. Sekolah tidak lagi sekadar bangunan, melainkan living laboratory yang mendidik melalui pengalaman. Pencahayaan alami, ventilasi silang, ruang belajar fleksibel, taman pangan, taman penyembuhan, hingga koridor terbuka dirancang untuk menumbuhkan rasa nyaman dan memiliki.
“Ruang belajar harus memberi rasa aman, tenang, dan menguatkan ikatan sosial,” ujarnya.
Menuju Generasi Emas yang Seimbang
Peluncuran Wellness School AYWS ini menjadi penanda pergeseran paradigma pendidikan: dari orientasi hasil menuju proses kehidupan yang utuh. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai mesin produksi tenaga kerja, melainkan ruang pembentukan manusia yang berdaya, berkesadaran, dan berkontribusi.
Baca Juga : SDN Nglarang Ukir Sejarah, SD Muhammadiyah Sapen Tutup MLSC Yogyakarta dengan Gelar
Dengan pendekatan wellness, AYWS menegaskan komitmennya untuk ikut menyiapkan Generasi Emas Indonesia—bukan hanya unggul secara intelektual, tetapi juga sehat jiwanya, kuat karakternya, dan selaras dengan alam serta nilai-nilai kemanusiaan.
Hutankan Asram Edupark
Sebelumnya pada jamiyah bersama Hafidh Asrom dan Eni Yustini Hafih Asrom melukan penanaman pohon bersama dan menyalurkan sedekah untuk anak kaum dhuafa dan yatim di lokasi masih di Kawasan Asram Edupark.
Dalam kesempatan itu Hafidh Asrom menjelaskan mengenai berbagai failitas yang ada di Asram Edupark yang siap melaksanakan program Wellness School. (Chaidir)

