Ruwatan Rambut Gimbal, Tradisi Menarik dan Unik di Dieng

Inijogja.net | DIENG Culture Festival (DCF) rutin digelar setiap tahun. Berbagai kegiatan yang diadakan selalu menjadi perhatian luar biasa dari masyarakat, termasuk wisatawan dari berbagai daerah. Tak heran pada puncak acara DCF selalu dihadiri ribuan pengunjung, bahkan jalan menuju Candi Dieng, Jawa Tengah, sebagai tempat pusat kegiatan, selalu dipadati kendaraan. Selain itu semua home stay juga penuh terisi wisatawan.

Anak-anak peserta potong rambut gimbal.

Ada acara tradisi yang paling menarik dan unik ditampilkan pada puncak acara, yaitu “Ruwatan Rambut Gimbal” atau upacara pemotongan (cukur) rambut pada anak-anak berambut gimbal (gembel) yang dilakukan oleh masyarakat, bahkan kini para pejabat pemerintah juga ikut terlibat. Biasanya ritual ruwatan yang diadakan pada tanggal satu Suro menurut Kalender Jawa bertujuan untuk membersihkan atau membebaskan anak-anak berambut gimbal dari sukerta/sesuker (kesialan, kesedihan, atau malapetaka).
Pada tahun 2020 ini kegiatan ritual pemotongan rambut gimbal hanya dilakukan secara virtual, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang disaksikan langsung ribuan masyarakat. Acara pemotongan rambut gimbal menjadi sajian penutup Festival Budaya Dieng atau Dieng Culture Festival (DCF) 2020 di kompleks Rumah Budaya Dieng, Kamis (17/09/2020).
Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, dengan jumlah peserta cukup banyak, pada DCF kali ini anak rambut gimbal yang mengikuti ritual hanya 3 anak. Ritual tetap sakral dan berjalan khidmat dengan penerapan protokol kesehatan di area kegiatan berlangsung. Wakil Bupati Banjarnegara Syamsudin ikut memotong rambut gimbal salah satu anak.
Sesepuh Adat Dieng, Mbah Sumanto, mengatakan, adanya pandemi Covid-19 prosesi pemotongan rambut gimbal dilakukan secara sederhana. “Meski demikian, tetap tidak mengurangi makna,” katanya seperti dilansir Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat (18/09/2020).
Ia menambahkan, warga pegunugan Dieng sepakat ritual pemotongan rambut gimbal tetap digelar sekalipun di tengah pandemi Covid-9. Sebab, ritual tersebut merupakan tradisi peninggalan para leluhur dan harus dilestarikan.
Ketiga anak yang menjalani ritual pemotongan rambut gimbal yaitu Atika Nur Laila (7) anak dari keluarga Suprapto warga Dusun Nguwok Desa Bowongso Kalikajar Wonosobo. Bocah tadi minta dibelikan buntil dan bakso.
Kemudian Reli Juliyanti (9) anak dari keluarga Daris Darmadi warga Desa Limbangan Madukara Banjarnegara, dengan permintaan dibelikan HP. Sedang satu per
serta lainnya adalah Dea Maulana Safira (7) anak dari keluarga Ny Kosim, warga Dusun Diwek Desa Sitiharjo Garung Wonosobo. Dea minta dibelikan kalung dan tablet.
Urutan prosesi dari ruwatan sampai pemotongan rambut dilakukan secara lengkap. Bahkan sebelum dilaksanakannya pemotongan rambut gimbal, sesepuh adat melakukan ritual laku lampah atau napak tilas ke tempat-tempat yang dikeramatkan.
Wakil Bupati Banjarnegara, Syamsudin, mengapresiasi berjalannya DCF meski dilakukan secara virtual. “Masyarakat akan mengenang semangat DCF yang digelar ditengah pandemi Covid-19 ini,” ujarnya.
Ia menilai, meski secara kuantitas anak berambut gimbal yang mengikuti jumlahnya lebih sedikit, tetapi untuk kualitas prosesi masih tetap sama, dikemas dengan baik dan khidmat.

3 Golongan Ruwat

Dalam masyarakat Jawa,ritual ruwat dibedakan dalam tiga golongan besar yaitu ritual ruwat untuk diri sendiri, lingkungan dan ritual ruwat untuk wilayah.

Pada umumnya, pangruwatan Murwa Kala dilakukan dengan pagelaran pewayangan yang membawa cerita Murwa Kala dan dilakukan oleh dalang khusus memiliki kemampuan dalam bidang ruwatan. Pada ritual pangruwatan, bocah sukerta dipotong rambutnya dan menurut kepercayaan masyarakat Jawa, kesialan dan kemalangan sudah menjadi tanggungan dari dalang karena anak sukerta sudah menjadi anak dalang. Karena pagelaran wayang merupakan acara yang dianggap sakral dan memerlukan biaya yang cukup banyak, maka pelaksanaan ruwatan pada zaman sekarang ini dengan pagelaran wayang dilakukan dalam lingkup pedesaan atau pedusunan.

Proses ruwatan seperti ini bisa ditujukan untuk seseorang yang akan diruwat, namun pelaksanaannya pada siang hari. Sedangkang untuk meruwat lingkup lingkungan, biasanya dilakukan pada malam hari. Perbedaan pemilihan waktu pelaksanaan pagelaran ditentukan melalui perhitungan hari dan pasaran.

Khusus Ruwatan Rambut Gimbal, kepercayaan bahwa anak-anak berambut gimbal adalah keturunan Kiai Kolodete atau titipan Kanjeng Ratu Kidul (Nyai Roro Kidul) menjadi mitos turun-temurun dalam kehidupan masyarakat Dieng. Mereka juga percaya bahwa rambut gimbal hanya boleh dipotong bila anak yang bersangkutan sudah menghendaki/memintanya dan harus dilakukan melalui ritual ruwat atau ruwatan yang dipimpin tetua adat setempat. Uniknya, ruwatan ini hanya dapat dilakukan setelah orang tua memenuhi permintaan “apa pun” yang diajukan oleh sang anak. Konon jika pemotongan rambut gimbal tidak dilakukan melalui ritual sakral, rambut gimbal akan kembali tumbuh dan si anak cenderung sakit-sakitan.
Tradisi ruwatan rambut gimbal menarik perhatian masyarakat umum, terlebih orang-orang dari luar daerah Dieng. Seiring berjalannya waktu, tradisi ritual yang unik ini digelar sebagai pertunjukan budaya. Kemudian hari, ruwatan rambut gimbal yang dilakukan secara massal menjadi bagian penting dari Festival Budaya Dieng (Dieng Culture Festival) yang digelar setiap tahun. Tahun 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan tradisi “Ruwatan Rambut Gimbal” sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Jawa Tengah dengan domain Adat Istiadat Masyarakat, SItus, dan Perayaan-Perayaan. (Chaidir)

About Author

Leave A Reply