Pasar Kotagede, Pasar Tertua dan Bersejarah di Jogja

JOGJAKARTA dikenal juga sebagai “Kota Sejarah”. Salah satu peninggalan sejarah adalah keberadaan pasar tradisional yang tertua dan masih bertahan sampai saat ini adalah Pasar Kotagede.

Memang tidak banyak  yang mengetahui bahwa Pasar Kotagede merupakan pasar tertua dibandingkan lainnya yang ada di Daerah Istimewa Jogjakarta. Sebab pasar ini didirikan beriringan dengan berdirinya Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-16. Kerajaan ini cikal bakal adanya Kerajaan Mataram yang hingga kini masih ada.

Pasar kotagede yang kini popular dengan nama Pasar “Legi” Kotagede, menurut Budi Sarwono (warga Kotagede), bentuk bangunannya masih dipertahankan seperti awal berdirinya. “Terakhir direnovasi pada tahun 2006 karena terkena gempa. Tapi bentuk bangunannya masih tetap sama,” ujar Budi Sarwono.

Penjual jajanan khas Kotagede.

Disebut Pasar Legi, lanjut Budi, karena setiap hari pasaran Legi para pedagang melimpah ruah hingga jalan di luar gedung pasar. “Hanya setiap Legi saja pedagangnya melimpah sampai luar. Kalau hari biasa hanya pedagang yang ada di dalam gedung pasar,” ujar Budi yang sering menjadi pemandu wisata khusus Kotagede para turis asing.

Pasar hari pasaran Legi, sejumlah pedagang yang berada di luar gedung ternyata ada yang menjual barang-barang antik atau pusaka seperti keris atau keris kecil “Semar Mesem”.

Dalam sejarahnya diceritakan bahwa keberadaan pasar lebih dahuku  ada daripada Kerajaan Mataram Islam yang berpusat di Kotagede itu. Pasar sebagai pusat ekonomi di anggap jauh lebih penting bagi masyarakat Mataram daripada kerajaan sebagai pusat pemerintahan.

Dikisahkan kala itu Ki Gede Pemanahan mendapat hadiah dari Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya setelah dirinya berhasil menaklukan Arya Penangsang. Pasar dianggap bukan hanya sebagai pusat ekonomi semata. Tapi lebih jauh dari itu pasar adalah tempat interaksi warga dimana segala kegiatan bisa terjadi di pasar. Pasar juga tempat berkumpul seluruh kalangan dari rakyat jelata hingga mereka yang kaya.

Seperti kerajaan pada umumnya, tata kota atau wilayah ini pada jaman dulu juga telah menganut konsep Catur Gatra Tunggal. Dimana dalam sebuah pemerintahan itu harus ada 4 hal yakni Krayon sebagai pusat pemerintahan, Alun-alun sebagai tempat berkumpul dan budaya, Masjid sebagai tempat ibadah dan Pasar sebagai pusat ekonomi.

Dinamakan Pasar Legi karena puncak keramaian ada di hari pasaran legi dalam penanggalan Jawa. Pasaran ini akan terjadi setiap 5 hari sekali, selain legi masih ada pasaran paing, pon, wage dan kliwon.

Pasar Kotagede meski hanya pasar tradisional tapi dari sisi kelengkapan cukup banyak. Pada hari pasaran jumlah pedangang bisa mengalami peningkatan lebih dari 100 persen. Dimana segala kebutuhan hidup ada disini, mulai dari aneka sayuran, sandang, akesesoris, peralatan keluarga hingga hewan piaraan mulai dari ikan hingga burung ada di sini.

Di pasar tersebut ada Babon Anim yang merupakan salah satu landmark Kotagede. Ia dibangun di awal tahun 1900-an. Disebut babon karena dulunya merupakan gardu listrik induk. Sementara penambahan kata anim karena gardu pusat kontrol listrik ini merupakan warisan perusahaan listrik Pemerintah Belanda, NV ANIEM (Algemeen Nederlands Indische Electricitiet Maatschappij). Kondisinya saat ini tampak baik karena telah direnovasi. (dir)

About Author

Leave A Reply