Sabtu, Juni 15
About

Pameran Keramik yang Menarik di Djawata Gallery

Pinterest LinkedIn Tumblr +
BANTUL – Pameran keramik bertajuk “Soil Distortion” digelar di Djawata Gallery, Kajen, Bangunjiwo,  Bantul. Pameran yang diadakan Citrus Studio berlangsung pads19 Maret sampai 3 April 2022.

Baru Klinting karya Yavi Mahendra. (Foto: Agoes Jumianto)

Tema pada pameran yang menarik ini adalah distorsi pada tanah liat/clay. Distorsi tersebut kemudian bisa dimaknai dari berbagai perspektif oleh seniman maupun audiens.
Demikian dijelaskan Tauifik, Ketua kegiatan pameran ini kepada nyatanya.com, web jejaring inijogja.net, Sabtu (19/3/2022).

Capricornalter karya Muhammad Alhaq. (Foto: Agoes Jumianto)

“Tema Soil distortion menjadi tema yang luas dan eksploratif dalam karya keramik sehingga diharapkan hasil karya-karya yang segar dan menarik,” terang Taufik.
Soil Distortion atau dalam bahasa Indonesia distorsi tanah liat, memiliki berbagai makna. Secara bahasa, makna dari frasa tersebut adalah perubahan bentuk yang ekstrim pada tanah liat.
Terlepas dari makna kebahasaannya, Soil Distortion dapat dimaknai secara beragam dari berbagai perspektif. Perubahan bentuk pada tanah liat bisa dalam makna ‘bentuk fisik’ yang sesungguhnya, maupun secara konseptual.
“Salah satunya adalah eksplorasi fisik dari tanah yang kemudian menghasilkan keindahan maupun kerusakan tertentu,” imbuh Taufik.
Di sisi lain, secara konseptual, distorsi dapat terjadi dalam proses berkesenian si seniman selama pra-pameran. Proses berkesenian yang bisa jadi meliputi konstruksi, destruksi, deformasi, hingga distorsi secara berulang, acak, maupun berurutan dalam prosesnya.
Seniman muda Citrus Studio yang merupakan lintas akademik dan latarbelakang ikut terlibat dalam pameran kali ini. Diantaranya Rd. Muhammad Taufik Hidayat dengan karyanya ‘Si Jabang dari Embrio Seni’, Muhammad Jamaludin Rido dengan karya berjudul ‘Nerve-Racking 26/20/20’.
Ada juga Kukuh Permadi dengan karya berjudul ‘Dataran Karst’ yang bernarasi tentang Gunungkidul, gunung kidulan. Sementara Anton Yulianto lewat karyanya ‘Bawana Madya Pada’ yang lahir dari perjalanan spiritual dalam hal bentuk.
Perupa lain yang ikut unjuk karya di pameran ini adalah Iftikhara A Rajwie yang mempertanyakan ‘makna’ dari seni keramik lewat karyanya berjudul ‘Neo Heritage’.
Aldizar Ahmad Ghifari lewat karyanya ‘Bebunyian Tanah’, mencoba memotret nilai budaya lokal dan unsurnya, manusia dan kepercayaan kepada alam.
“Melalui karya ini, Aldizar berusaha menunjukkan bagaimana tanah sudah lama mengakar dan menghidupi hajat orang banyak selama beberapa turunan,” tulis Andika Wahyu A.P dalam katalog pameran.
Nama-nama lain yang ikut berpameran, Yavi Mahendra, Faiq Al Fahmi, Imantopo Dipo Suksma, Vanya Ratna Suryatni, Nabila Rahma, dan Muhammad Alhaq.
Penanggung Jawab Djawata Gallery, Syaikul Jabrik menambahkan, dengan dibukannya pameran Soil Distortion sekaligus menandai aktivitas seni di Djawata Gallery.
“Sejatinya tempat ini menjadi sebuah laboratorium seni yang mewadahi segala aktivitas berkesenian dan terbuka untuk semua lintas seni tanpa batas,” terang Syaikul Jabrik.
Syaikul Jabrik berharap dengan pameran Soil Distortion kembali menggairahkan pelaku seni untuk tidak berhenti berproses dan berkarya, meski di tengah badai pandemi sekalipun, dan Djawata Gallery siap berkolaborasi. (Aja)
Share.

About Author

Leave A Reply