Pajangan, Gudangnya Kuliner Ingkung Jawa

Inijogja.net | DAERAH Istimewa Jogjakarta (DIJ) kaya dengan pusat-pusat kuliner. Bila anda berkunjung atau berwisata ke wilayah Kabupaten Bantul, jangan lupa mampir di kawasan Pajangan. Sebab di tempat ini gudangnya kuliner Ingkung Jawa yang memiliki cita rasa tersendiri.
Untuk menuju lokasi Pajangan tidak begitu sulit, hanya berjarak sekitar 20 km dari pusat Kota Jogja. Tidak jauh dari Masjid Agung Kota Bantul, menuju arah barat sekitar 3 km maka anda akan menyaksikan sederetan warung-warung kuliner ingkung. Mulai dari Kampung Wisata Santan sampai arah menuju Goa Selarong terdapat kuliner olahan makanan tradisional khas Bumi Projo Tamansari.
Mulai dari Kampung Wisata Santan, Kelurahan Guwosari, salah satu yang cukup populer adalah Ingkung Mbah Cempluk. Ada lagi Ingkung Kuali, Ingkung Kalakijo yang cukup besar restonya. Selain itu Waroeng N’Desso, Ingkung Tepi Sawah, Sor Sarwo, Mbah Geol. Kemudian dekat Goa Selarong ada Ingkung Slarong dan Mbah Kenthol yang terkenal.
Masing-masing resto ingkung jika kita bisa menikmati maka akan terasa perbedaan mendasar pada cita rasanya. Ada yang berciri khas sedikit manis dan ada yang kegurih-gurihan. Ingkung jika ada siraman areh santan kelapa rasanya lebih mantap.
Ingkung adalah kuliner berbahan dasar ayam Jawa (ayam kampung) yang dimasak dan disajikan secara utuh. Tentu tidak seratus persen utuh, karena ada bagian jeroan yang diambil seperti ati, usus, ampela-jantung dan bagian lainnya telah dikeluarkan.
Dalam berbagai ritual tradisi di Jawa, terutama di Kabupaten Bantul, ingkung biasanya menjadi bagian dari ubo rampe atau kelengkapan sesaji. Seiring waktu, Ingkung di Bantul kini bukan lagi hanya untuk prosesi ritual semata, namun sudah manjadi komoditas kuliner, bahkan banyak diminati oleh wisatawan.
Dalam menyajikan ingkung, rata-rata resto menyediakan menu ingkung utuh, yaitu nasi 1 bakul (3-4 orang), ayam ingkung 1 ekor, sambal lalap, dan tentunya kuah areh sebagai ciri khas ingkung. Selain itu menu ingkung 1/2 potong, nasi 1/2 bakul (2 orang), sambal lalap dan kuah areh. Disediakan pula dalam kemasan nasi kotak yang isinya potongan ayam, nasi putih, urap, oseng godong kates, tahu/tempe goreng, dan sambal lalap.
Mereka menyediakan pula berbagai olahan sayur seperti sayur lodeh, daun pepaya, oseng jantung pisang dan sayur daun lompong. Ada pula olahan wader lombok ijo dan udang.
Ayam ingkung merupakan ayam utuh yang dihidangkan bersama jeroannya. Bukan sekedar ayam yang dimasak, ada filosofi yang melekat pada ayam ingkung.  Ayam tu-kung atau ingkung selalu disandingkan dengan tumpeng sebagai sesaji.
Ayam Ingkung memiliki arti mengayomi, diambil dari kata jinakung dalam Bahasa Jawa kuno dan manekung yang artinya memanjatkan doa. Ayam juga dipilih sebagai bahan pokok dalam hidangan ini karena memiliki arti dan makna tersendiri. Zaman dulu ayam di pilih sebagai sesaji sebagai simbol manusia. Makanya telur ayam disimbolkan sebagai kelahiran. Ayam ingkung disajikan dengan utuh dan terlihat sedang bersungkur, posisi ini juga mewakili makna tertentu.
Yang pasti, mencicipi ingkung jawa akan terasa berbeda bila menikmatinya di gudangnya ingkung jawa di kawasan Pajangan. (dir)

About Author

Leave A Reply