Kisah Sultan HB IX Mengetahui Mesin Mobil Rusak Tanpa Memeriksa

 

Bisa jadi banyak orang tidak mengenal sosok ini, seorang kakek yang tinggal di sebuah dusun. Namanya Raden Sumadi, anak ketiga dari keluarga Raden Prodjo Sastro Mustopo.

Mendiang ayah Sumadi adalah seorang lurah di salah satu wilayah Umbul Harjo (Pandeyan) Yogyakarta pada masa penjajahan Belanda. Kakeknya adalah salah satu orang kepercayaan keraton untuk mengkhitan para putra keraton pada jamannya.

Raden Sumadi

Raden Sumadi

Pria kelahiran di Yogyakarta tahun 1929 ini seringkali menceritakan pengalamannya tentang Sri Sultan Hamengku Buwono IX kepada anak cucunya. Saat bercerita R. Sumadi terlihat bersemangat. Dia kagum dengan sosok Sri Sultan HB IX.

R. Sumadi adalah pensiunan dari kepolisian RI pada tahun 1977. Semasa berdinas acapkali ditugaskan sebagai supir pengganti untuk Sri Sultan HB IX.

“Saya disuruh oleh komisaris besar datang ke kepatihan untuk jemput Sri Sultan. Dia sukanya naik jeep,” kata R. Sumadi.

“Selama saya menyupiri, Sri Sultan diam saja. Dia orangnya kalem, tidak banyak bicara. Saya ingat, selama perjalanan dari rumahnya ke Prambanan hanya bicara satu kali ke saya. Sri Sultan bertanya anak saya berapa.”

Sampai sekarang Sumadi masih selalu merasa heran dan kagum kepada Kak Sultan. Salah satu yang diingatnya adalah ketika pada suatu hari di tahun 1960, Sumadi mengantar Sultan HB IX ke suatu tempat. Lalu dia minta berhenti di sekitar Prambanan.

Sumadi disuruh pulang ke rumah, tidak boleh mampir-mampir dan membawa mobil ke bengkel. Sumadi pun kembali ke kantor dan dia ditanya oleh atasannya. Lalu atasannya itu memanggil montir. Setelah dua kali dicek, montir menemui ada bagian dalam mesin mobil yang nyaris putus.

“Saya heran kok Sri Sultan tahu kalau mobil mau rusak, padahal dia tidak melihat mesin mobilnya. Mobil disuruh bawa ke bengkel”, kenang Sumadi.

About Author

Leave A Reply