Sabtu, Juni 15
About

Desainer Indonesia Tampil di Paris Fashion Week Abal-Abal? Simak Fakta Berikut

Pinterest LinkedIn Tumblr +
CATATAN REDAKSI : Sederet desainer Indonesia terbang ke Paris dan memamerkan karya mereka di gelaran GeKraf Paris Fashion Show 2022. Pentas busana di pusat mode dunia ini jadi heboh lantaran dituding sebagai pembodohan publik lantaran bukan bagian agenda resmi Paris Fashion Week.

Puluhan model memeragakan busana rancangan desainer Indonesia di GeKraf Paris Fashion Show 2022 (Dok. : KBRI Paris dan Sita S Phulpin)

Apa sebenarnya yang terjadi di pentas busana tersebut? Sita S Phulpin, mantan PR Institut Francais Indonesia Surabaya yang kini mukim di Paris memberi catatan yang dipublikasikan melalui website suratdunia.com.
Atas seijinnya, ulasan Sita itu dipublikasikan untuk pembaca iniSurabaya.com yang merupakan grup jejaring inijogja.net.
SETELAH dua tahun senyap dan lesu akibat pandemi, Paris kembali menggeliat. Berbagai peristiwa berskala internasional digelar, termasuk di bidang mode. Selama sembilan hari, mulai 28 Februari hingga 8 Maret 2022 Paris menggelar Paris Fashion Week.
Agenda besar ini tak disia-siakan para desainer dan berbagai brand Indonesia untuk unjuk gigi. Sebanyak 23 brand Indonesia diusung PT Indolima Perkasa bersama Gerakan Ekonomi Kreatif (GeKraf) dan Fashion Division dalam acara peragaan busana di kota mode Paris.
Menariknya, Elisabeth Moreno, Menteri Prancis untuk Kesetaraan Perempuan, Keberagaman dan Keadilan Sosial turut hadir menyaksikan GeKraf Paris Fashion Show 2022 yang juga didukung oleh KBRI Paris dan diselenggarakan pada 5-6 Maret 2022 tersebut.
Gelaran pentas busana ini merupakan langkah jitu. Karena selama sembilan hari itu, dunia mode berpaling pada Paris. Siapa yang tak kenal Paris sebagai pusat mode dunia?
Saat itu para fashionista, pengamat mode, wartawan-wartawan mode papan atas dan pelaku industri mode dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong datang ke Paris.
Mereka mencari inspirasi, melihat tren mode dan bakat-bakat baru. Dengan hadir pada periode tersebut karya-karya desainer muda Indonesia memiliki kesempatan lebih besar untuk dilirik oleh industri mode internasional.
Kans dikenal secara internasional memang lebih besar diperoleh daripada memperagakan kreasi mereka di Paris di luar periode Paris Fashion Week.
Selama dua malam berturut-turut Salon Imperial di Hotel Westin yang terletak di leher kawasan mewah Place Vendom menjadi ajang pamer karya para desainer muda Indonesia.
Melalui lenggak-lenggok para peragawati internasional, kreasi desainer-desainer Indonesia menyapa industri mode dunia.
Walaupun sekarang ini masih berada dalam program off atau dengan kata lain belum masuk ke dalam agenda resmi Paris Fashion Week bukan tidak mungkin suatu hari desainer-desainer Indonesia bisa mengisi agenda peragaan busana resmi yang digelar panitia Paris Fashion Week, perhelatan mode yang sangat prestisius itu.
Kriteria untuk bisa masuk ke dalam program acara peragaan busana resmi Paris Fashion Week sangat ketat dan tidak mudah ditembus. Sekali lagi, bukan hal yang mustahil desainer Indonesia bisa menembus tembok tebal tersebut.
Harry Halim yang mengawali GeKraf Paris Fashion Show pada hari Sabtu (5/3/2022) lalu dengan 12 unik pernah membuktikannya. Tahun 2012 busana-busana karya Harry Halim tampil dalam agenda resmi Paris Fashion Week.
Nama Harry Halim sangat kondang. Namanya tak asing di kalangan selebritis papan atas Amerika, seperti Cardi B, penyanyi rap, pencipta lagu sekaligus aktris Amerika, Ava Max, musisi yang juga penyanyi Amerika, dan Billy Porter, penyanyi dan aktor Afro-Amerika.
Malam Minggu itu selain Harry Halim, dua belas desainer muda lainnya turut unjuk kreasi. Tercatat nama Adisza Kahanasty, Adraworld yang berkolaborasi dengan parfum Indonesia HMNS, AKSU, Anggia, Carol Chen, Elima, Hanyutan, Purana, Var Erte, para desainer lulusan Lasalle College Surabaya, Universitas Ciputra Surabaya dan Binus Northumbria School Jakarta.
Meskipun acara peragaan busana tersebut tidak masuk dalam agenda resmi Paris Fashion Week 2022, namun tak berarti busana-busana yang diperagakan tidak berkualitas.
Menurut Tito Kadaryanto, Presiden Direktur PT Indolima Perkasa, mereka melakukan seleksi ketat. Sebelumnya dilakukan edukasi-edukasi yang dilakukan pihaknya sejak Oktober tahun lalu melalui serangkaian webinar mode bersama para desainer papan atas Indonesi.
Menurutnya, salah satu kriteria untuk terpilih dalam acara fashion show di Paris ini adalah rancangan busana yang kreatif dan menggunakan produk atau bahan-bahan dari Indonesia.
Memang selama fashion show terlihat banyak rancangan yang terinsipirasi dari berbagai kekayaan budaya nusantara. Para desainer dengan kreatif memadupadankan warna barat, timur tengah dan nusantara melalui wastra dan aksesoris tradisional yang mempesona.
Beberapa pengunjung yang ditemui seperti François yang fotografer, Emeryc seniman graphis dan istrinya yang bergerak di bidang mode menyatakan apresiasinya pada busana-busana yang diperagakan. Banyak hal baru yang mereka temukan dalam peragaan busana desainer muda Indonesia kemarin itu.
Tampak beberapa tokoh masyarakat di antara tamu yang hadir pada malam pertama. Selain Duta Besar RI di Paris, Mohammad Oemar, terlihat pula Anggun, penyanyi kondang asal Indonesia, dan Elisabeth Moreno, menteri Prancis yang membawahi urusan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki, dan keberagaman budaya dan persamaan kesempatan bagi seluruh penduduk.
Busana-busana karya anak bangsa Indonesia yang mengangkat keragaman budaya mendapat sambutan hangat Elisabeth Moreno. Menteri yang cantik dan enerjik itu terlihat rileks dan antusias selama menghadiri acara fesyien show ini, begitu pula saat memberikan pidatonya.
Upaya-upaya persamaan kesempatan, utamanya bagi perempuan, juga tak luput dari perhatiannya. Elisabeth memuji banyaknya desainer perempuan yang memperagakan kreasi-kreasinya malam itu. Secara kebetulan GeKrafs Paris Fashion Show ini digelar mendekati hari Hak-Hak Perempuan se-Dunia yang jatuh pada 8 Maret.
Sedangkan pada Minggu (7/3/2022) malam, kehadiran Ariel Noah sebagai duta brand Greenlight dan penyanyi Rossa membuat acara fesyien itu cukup heboh. Masyarakat Indonesia yang hadir memanfaatkan untuk mengambil foto maupun berfoto bersama.

Yang agak berbeda dari malam sebelumnya adalah dikumandangkannya Indonesia Raya sebelum peragaan busana dimulai dan setelah rehat. Bukan hal yang umum dalam sebuah peragaan busana di Prancis. Tentu saja para hadirin diminta berdiri saat lagu kebangsaan Indonesia itu dilantunkan.

Dalam peragaan busana kedua yang juga digelar di dalam ruang klasik nan cantik berkapasitas 320 orang tampil 10 brand dari beragam jenis produk. Mereka adalah Deskranasda dari kota Banjar Baru, Salon Em en dengan La Sabelle, Danjyo Hiyoji dengan 3 Second, Yanti Adeni dengan Ayam Geprek Bensu, IKYK dengan kosmetik Scarlett, Brand no Brand, Tika Ramlan dengan Chayra, Ican Harem dengan label Greenlight, Shade Signature dengan Kosme, dan Mulsk Berry Good Sleep di penghujung acara feshyen show yang meriah.
Perjalanan ke Paris dan memperagakan kreasi di hadapan publik internasional tentu memberi pengalaman berharga bagi desainer muda Indonesia yang berpartisipasi. Perbedaan persiapan, etos kerja dalam dunia fesyien bahkan selera publik di luar Indonesia akan menjadi pelajaran tak ternilai.
Beberapa desainer muda yang berpartisipasi menyatakan kegembiraannya. Bagi mereka peragaan busana ini bisa menjadi batu loncatan untuk bisa merambah pasar Eropa dan di luar Eropa mengingat tak sedikit dari tamu yang hadir berasal dari negara-negara Asia, Arab, Afrika dan benua Amerika selain Eropa.
“Dengan keikutsertaan desainer Indonesia dan memperkenalkan produk-produk Indonesia, kami berharap terjadi pertukaran dagang antar negara sehingga menarik devisa ke Indonesia dan menarik investor asing untuk berkolaborasi,” ungkap Presiden Direktur PT Indolima Perkasa, pengusung acara ini.
Dalam pesan tertulis melalui WhatsApp, dia menambahkan,“Kami berkeinginan menggelar acara serupa pada pekan-pekan mode internasional semacam ini. Tak hanya di Paris pada bulan September yang akan datang, tapi juga yang diselenggarakan di negara-negara Eropa lainnya seperti di London, Milan, Berlin dan Madrid.”
Rupanya pamer kreasi karya anak bangsa Indonesia ini tak berhenti di dua acara peragaan busana itu saja. Koleksi-koleksi beberapa desainer dan brand yang tergabung dalam GeKrafs Paris Fashion Show ini masih bisa dinikmati hingga tanggal 16 Maret di Galeri Joseph di rue de Turenne no 51.
Tempat yang cukup strategis. Selain terletak di pengkolan jalan antara rue de Turenne dan rue du Parc Royal, juga karena galerie ini berada di kawasan yang cukup ramai.
Berjajaran butik-butik yang menawarkan barang-barang yang istilah sekarang masuk ke dalam kategori ekonomi kreatif. Diharapkan masyarakat Prancis yang lalu lalang di daerah tersebut mampir dan berkenalan dengan produk-produk Indonesia.
Catatan saya terakhir dari pekan mode di pusat mode dunia tahun ini, dan tak kalah membanggakannya adalah kehadiran karya dua desainer Indonesia pada agenda resmi Paris Fashion Week.
Brand busana Sean Sheila dan brand aksesoris Jewel Rocks Bijoux hadir di show room yang berlangsung dari tanggal 4 hingga 7 Maret. Keduanya mendapat kesempatan berada di antara stan-stan yang menempati Palais Brongniart, gedung bekas kantor bursa efek Paris.
Di dalam gedung megah bergaya neo-klasik bertahun 1826 yang terletak di 16, Place de la Bourse, Paris distrik 3, masyarakat bisa membeli kreasi-kreasi kedua brand itu. Dan tampaknya hasil dari keikutsertaan mereka cukup memuaskan.
Jika ingin eksis dan dikenal secara internasional upaya-upaya hadir di berbagai gelaran internasional seperti ini memang harus dilakukan secara terus menerus. Seperti pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang.
Pun demikian dengan dunia mode Indonesia. Jika tak memperkenalkan diri bagaimana masyrakat internasional bisa mengenal dan kemudian jatuh cinta pada karya-karya Indonesia? Segala kekurangan dan kritik harus menjadi cambuk agar ke depannya menjadi lebih baik. (*)
Share.

About Author

Leave A Reply